dalam beberapa waktu
aku mengikuti jejak helaian bulu dari sayap yang bercahaya
kupungut satu-satu
hingga berakhir di matamu yang sayu
yang langsung kau tundukkan, memangkas jelajah pandangku menyusur jejakmu
kerudung hijau
terbalut indah menutup mahkotamu
pun jilbab berwarna senada tak membentuk fisikmu
itulah hijab bagi dirimu, hatimu ..
menjagamu dari lelaku dan lelaki
yakinmu, TUHANlah Pemilikmu, Raja diraja
Cukuplah DIA juga melindungimu ..
Diam-diam,
kurajut helai bulu cahaya yang kupungut dari jejakmu,
hingga jadi satu,
sepasang sayap buatmu,
kupersembahkan untuk kembalimu ke surga, rumahmu ..
sebab, yakinku kau Bidadari Surga bermata sayu
yang singgah ke dunia untuk mengkaji ilmu
biar tahu, kesyukuran itu dalam syahdu yang dipunyai Makhluk Sempurna TUHANmu
yang berandai bisa memilikimu bersama ketaatannya pada TUHANmu
TUHAN, Pilihkan SATU buatku ..
Sabtu, 10 April 2010
Rabu, 17 Maret 2010
Jadi ??
Penguasa DATANG!!
Siapkan penyambutan!!
Kamu siapkan dana ..
Kamu siapkan tempat ..
Kamu siapkan waktu ..
bla .. bla .. bla ..
Lagi, dan lagi ..
kemubadziran itu kembali dihampar pada tubuh pertiwi
pada bentang-bentang poster kehausan, kelaparan, penindasan dalam kekuasaan
anak-anaknya, cucu-cucunya ..
membungkusnya? menutup auratnya si Ibu Pertiwi? katanya ..
Kata PENGUASA!!
pun diaminkan para penjilat di bawah tangannya
di bawah gertak lantang suaranya PENGUASA
si pengemis nista demi sejumput nilai kuasa dalam sekian rentang masa
tidak selamanya, namun bisa buatnya gila ..
harta, tahta ..
demi siapa??
demi apa??
anakmu perlu susu
anakmu perlu pendidikan
anakmu perlu pekerjaan
anakmu perlu perlindungan
dan anakmu perlu uang ..
untuk membayarmu menghirup udara terbersih
untuk membayarmu berjalan di red carpetnya orang-orang terkenal
untuk membayarmu menginap di hotel termegah
untuk membayarmu makan minum di restoran termahal
untuk membayarmu membeli ini itu, yang kau mau ..
APAPUN INGINMU ..
kenapa kau jadi lugu, gagu, dungu??
ketakutankah akan kuasa adidayanya mencengkrammu?
Jadi ..
kenapa kami mesti memelas kala meminta padanya?
kenapa kami mesti ditendang kala dia mau melindas di depan gubuk kami?
kenapa kami mesti dipenjara kala menyebutkan namanya dengan titel sepengetahuan kami?
kenapa ..
kenapa ..??
toh siapa Dia??
begitu agungkah ingin disambut ..
pun apa yang telah kau beri padaku ..
pada Ibu ku ..
hanya sayap-sayap khayal dalam rayunya ..
atau jerat yang makin mencekik hela bisaku ..
Siapkan penyambutan!!
Kamu siapkan dana ..
Kamu siapkan tempat ..
Kamu siapkan waktu ..
bla .. bla .. bla ..
Lagi, dan lagi ..
kemubadziran itu kembali dihampar pada tubuh pertiwi
pada bentang-bentang poster kehausan, kelaparan, penindasan dalam kekuasaan
anak-anaknya, cucu-cucunya ..
membungkusnya? menutup auratnya si Ibu Pertiwi? katanya ..
Kata PENGUASA!!
pun diaminkan para penjilat di bawah tangannya
di bawah gertak lantang suaranya PENGUASA
si pengemis nista demi sejumput nilai kuasa dalam sekian rentang masa
tidak selamanya, namun bisa buatnya gila ..
harta, tahta ..
demi siapa??
demi apa??
anakmu perlu susu
anakmu perlu pendidikan
anakmu perlu pekerjaan
anakmu perlu perlindungan
dan anakmu perlu uang ..
untuk membayarmu menghirup udara terbersih
untuk membayarmu berjalan di red carpetnya orang-orang terkenal
untuk membayarmu menginap di hotel termegah
untuk membayarmu makan minum di restoran termahal
untuk membayarmu membeli ini itu, yang kau mau ..
APAPUN INGINMU ..
kenapa kau jadi lugu, gagu, dungu??
ketakutankah akan kuasa adidayanya mencengkrammu?
Jadi ..
kenapa kami mesti memelas kala meminta padanya?
kenapa kami mesti ditendang kala dia mau melindas di depan gubuk kami?
kenapa kami mesti dipenjara kala menyebutkan namanya dengan titel sepengetahuan kami?
kenapa ..
kenapa ..??
toh siapa Dia??
begitu agungkah ingin disambut ..
pun apa yang telah kau beri padaku ..
pada Ibu ku ..
hanya sayap-sayap khayal dalam rayunya ..
atau jerat yang makin mencekik hela bisaku ..
Jumat, 05 Februari 2010
"Menghidupkan Wisata Danau Lumpur Lapindo"

Setelah 3 tahun ditambah 100 hari pemerintahan yang sekarang, ternyata tidak sedikitpun menyentuh kondisi sosial korban lumpur Lapindo yang ada di Desa Porong, Sidoarjo. Perlahan dan (seperti) pasti, kondisi sosial di Porong dan desa-desa lainnya yang terkena dampak lumpur Lapindo dilupakan bahkan ditinggalkan. Rembug Nasional (National Summit) yang diadakan Presiden setelah pelantikannya juga seperti sengaja untuk tidak mengundang korban lumpur Lapindo.
Masih tercecer saat ini lebih dari 300 KK yang menganggur, hak penghidupan yang semestinya menjadi hak paten manusia hidup masih juga tidak diperjuangkan dengan baik. Bisa dibayangkan, berapa total nyawa yang terancam kelangsungan hidup, pendidikan dan masa depan bila dihitung dari 300 KK. Uang ganti beli (yang jelas-jelas uangnya dari Negara alias Rakyat) juga tidak membantu banyak, karena masih banyak penduduk yang belum menerima uang ganti asset tersebut.
Kebijakan Perpres No. 14/2007 adalah termasuk kebijakan ‘kesopanan’ pemerintah pusat pro Lapindo, tidak tegas dalam memberesi persoalan rakyat akibat kebijakan pengelolaan usaha hulu minyak dan gas bumi (migas) yang tidak berorientasi pada social safety.
Terakhir minggu ketiga bulan pertama tahun ini, saya mencoba melakukan assesment secara nyata ke desa-desa yang terkena dampak lumpur Lapindo. Lokasi pengungsian yang masih semrawut, pengangguran nyata yang terlihat di sisi danau lumpur, hingga wajah-wajah tegang yang berseliweran disekitarnya. Namun terlihat juga beberapa pengunjung yang menikmati danau lumpur ciptaan Lapindo itu. Luas tanggul yang hampir mencapai 1 KM menjadi strategic view untuk menikmatinya. Terlihat sekali minim aktifitas yang terjadi disini. Hampir seperti daerah mati. Sebelum menikmatinya, saya dicegat dan di minta membayar sebesar 5000 rupiah sebagai ganti uang tiket masuk ke lokasi wisata danau lumpur. Tanpa senyum dan tanpa basa basi, terlihat sekali ketegangan yang sudah akut menyelimuti pikiran mereka-mereka yang ada di daerah ini.
Berbekal melihat dan mencermati keadaan, kebutuhan perut para pengungsi yang berjumlah lebih dari 300 KK tersebut sudah tidak bisa lagi dihindarkan. Sudah sangatlah mendesak. Menurut Ipung M Nizar, salah satu koordinator pengungsi, mereka sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Kebanyakan dari mereka sulit untuk diajak keluar dari daerah lumpur tersebut. Hingga akhirnya dia sebagai koordinator tidak bisa juga meninggalkan rekan-rekan dan beberapa saudaranya yang masih tinggal dan menunggu uang ganti beli dari Pemerintah. Namun mereka berjanji bila ada jaminan penghidupan yang layak, mereka akan berusaha untuk keluar dari lingkungan Lumpur yang jelas-jelas sudah tidak lagi kondusif untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Selama ini Ipung dan teman-teman mencoba untuk berkarya dengan membuat CD/DVD dokumenter tentang kejadian Lumpur Lapindo.
Untuk membantu Ipung dan rekan-rekannya, saya beserta teman-teman mencapai pada tahap kesepakatan untuk membantu dengan cara menghidupkan saja sekalian wisata di Danau Lumpur Lapindo. Secara SDM dan kreatifitas, daerah Tanggulangin dan Porong merupakan sentra produksi kerajinan yang sangat dikenal di Indonesia. Di Tanggul pembatas lumpur yang lebar mencapai 15 Meter serta panjang hampir 1 KM itu nantinya akan didirikan pasar wisata dengan berbagai penjualan. Hanya saja dibutuhkan banyak modal untuk orang-orang korban Lapindo ini agar bisa berjualan.
Untuk mensiasatinya, saya secara pribadi akan menggandakan CD/DVD Dokumenter Lumpur Lapindo serta membuat beberapa macam produk yang berhubungan dengan tragedi ini. Dan bisa dilihat di situs SocioDistro serta Social Movement yaitu "http://kukira.net" Yang nantinya hasil penjualan dikurangi modal akan saya kirim ke beberapa koordinator pengungsi disana, entah itu LSM atau personal. Diantaranya Ipung dan LSM yang tergabung dalam "http://korbanlumpur.info". Beberapa produknya adalah T-Shirt dan Topi.
Pengadaan konsep Pasar Wisata Danau Lumpur ini juga merupakan sebagai bentuk protes terhadap pemerintah dan mengingatkan kepada khalayak ramai bahwa masih banyak masalah yang diakibatkan oleh Lapindo dan pemerintah secara tidak langsung.
N.B
Dan bila ada rekan-rekan yang sanggup memberikan jaminan peminjaman uang baik perorangan maupun lembaga kepada para korban untuk digunakan sebagai modal usaha awal, silahkan hubungi saya atau langsung kepada Ipung M Nizar dengan nomor telpon 0817335244.
Sabtu, 30 Januari 2010
"Kela(BU)"
Bu,
Titipkan topeng pesakitanmu itu buatku
Terlalu berharga untuk kau pajang di sana
Di hati yang telah membatu
Jua membakarmu hidup-hidup dalam rasa
Tinggalkan saja buatku di sini
Doamu akan dihimpunNYA
Biar bisa menjerat kelak saat adilNYA berjaga
Andai kelabu itu bisa aku ubah
Kan kubawa tiara pelangi buatmu Bu
Biar lebih berwarna hidupmu
Lebih terang kau membaca masa
Dan lebih aman kau dari gelapnya dunia
Kau pasti enggan berbagi duka
Namun keterikatan kita ini mencekikku
Saat kulihat wajahmu semakin tirus
Tenggelam dalam dera pikir dan raga yang memaksa
Pintamu dalam doa
Hanya buatku saja, tiada keinginan buatmu jua
Katamu Restumu adalah kunci pembuka semua pintu di dunia
Perpanjangan TanganNYA pula
Bisakah aku membawamu ke surga?!
Bahkan melindungimu saja aku terengah dalam usaha
Melihatmu menangis dalam menerimanya
Sabarlah Bu,
Bisakah Cintaku ini jadi garansimu mengikhtisarkan keindahanNYA
Yang terwujud dalam ujiNYA atas nama CINTA
Al Lif Qy
220110. 9.07 am
Saat kesedihan itu merentas hariku
Titipkan topeng pesakitanmu itu buatku
Terlalu berharga untuk kau pajang di sana
Di hati yang telah membatu
Jua membakarmu hidup-hidup dalam rasa
Tinggalkan saja buatku di sini
Doamu akan dihimpunNYA
Biar bisa menjerat kelak saat adilNYA berjaga
Andai kelabu itu bisa aku ubah
Kan kubawa tiara pelangi buatmu Bu
Biar lebih berwarna hidupmu
Lebih terang kau membaca masa
Dan lebih aman kau dari gelapnya dunia
Kau pasti enggan berbagi duka
Namun keterikatan kita ini mencekikku
Saat kulihat wajahmu semakin tirus
Tenggelam dalam dera pikir dan raga yang memaksa
Pintamu dalam doa
Hanya buatku saja, tiada keinginan buatmu jua
Katamu Restumu adalah kunci pembuka semua pintu di dunia
Perpanjangan TanganNYA pula
Bisakah aku membawamu ke surga?!
Bahkan melindungimu saja aku terengah dalam usaha
Melihatmu menangis dalam menerimanya
Sabarlah Bu,
Bisakah Cintaku ini jadi garansimu mengikhtisarkan keindahanNYA
Yang terwujud dalam ujiNYA atas nama CINTA
Al Lif Qy
220110. 9.07 am
Saat kesedihan itu merentas hariku
Jumat, 08 Januari 2010
"Mengais Rezeki di Tepi"
Kapal itu merapat setelah labuh semalam
Bawa bagian rezekiku
Rombongan makelar menyerbu
Menimang rayu
Sedikit tipu
Meminang laku
Beruntungnya aku
Satu
Keranjang penuh tampungan rezekiku
Diunduh dari lambung kapal
Diarak menuju perkumpulan
Tergopoh menerawang bakal rezeki di situ
Tumpah ruah
Dua
Permintaan dan penawaran beradu
Beragam tampilan ini itu
Bau keringat dan amis mengikat jadi satu
Tersisipi satu rezekiku di situ
Tiga
Empat, Lima, Enamku hilang
Aku keburu diburu penunggu
Hingga payahku
Mendudukan tahtaku di atas ampar batu
Menghitung rezekiku
“Alhamdulillah akan kulihat ada senyum wajah emak,
Setelah abah tak jua pulang menunggu laut”
5.07 pm WITa, 04102010
Bawa bagian rezekiku
Rombongan makelar menyerbu
Menimang rayu
Sedikit tipu
Meminang laku
Beruntungnya aku
Satu
Keranjang penuh tampungan rezekiku
Diunduh dari lambung kapal
Diarak menuju perkumpulan
Tergopoh menerawang bakal rezeki di situ
Tumpah ruah
Dua
Permintaan dan penawaran beradu
Beragam tampilan ini itu
Bau keringat dan amis mengikat jadi satu
Tersisipi satu rezekiku di situ
Tiga
Empat, Lima, Enamku hilang
Aku keburu diburu penunggu
Hingga payahku
Mendudukan tahtaku di atas ampar batu
Menghitung rezekiku
“Alhamdulillah akan kulihat ada senyum wajah emak,
Setelah abah tak jua pulang menunggu laut”
5.07 pm WITa, 04102010
Senin, 28 Desember 2009
"kisah berkisah : Hentak Menyentak, Luluh Sontak"
Keinginan atau Logika (kah)?
Ekonomi yang kian mencekik
Harapan melengking memegakkan kuping
Usaha dihardik
Dunia memang licik
“Aku muak dengan kehidupan yang jelata!!”
Kain penutup tubuhmu telah kau gadaikan
Padahal :
Peluh telah aku kuras
Tulang telah aku remukkan
Kulit telah aku panggang
Wajahku brewokan
Dayaku tanpa helaan
“Apa ini tak cukup, hah??”
Pintamu semakin kau lagakkan
Aku tak mampu belikanmu harta
Seperti mereka dengan kerling mobil mewahnya
Bahkan berkacapun bisa di cat hitamnya
Hingga bekas-bekas asuhan waktupun jelas nyata
Walau tersembunyi dalam parutan harta
Hingga mulus bak intan
Terjaga polesannya
Karatnya jadi berharga
“Tapi hasilmu tak seberapa?!
Sementara lubang kian menganga hendak menerkam
Dan giginya yang tajam ..”
“Itulah rezekiku!!
Itulah sayang-NYA untuk kita,
Itulah bagian harta kita,
Itulah buah dari benih dan bibit kita,
Itulah kita sekarang!”
“Aku tak butuh itu!
Aku butuh makan!
aku butuh berlian!
aku butuh kesenangan!
Aku perlu kebutuhan!”
Diam!!
Dalam doa yang terkarang
Usaha kian mahal menggarang
Mungkinkah lakukan yang terlarang?
Nafsu selalu menyerang
Apakah aku harus “menyeberang??”
Hingga lamunan jadi kenyataan
Tapi ..
Tidak!!
Tuhanku Maha Penyayang
Tuhanku Maha Melihat
Tuhanku Pemberi Rezeki
Tuhanku, Hakim yang Adil
Sabarlah..!!
Kau kubekam dalam kealpaan
Hingga aman kau kawan
Tak kuizinkan menyanksikan
Tutuplah matamu, tenang ..
Rasakan nafasmu
Alir darahmu
Degup jantungmu
Adakah ia mengeluh kau asuh?
Walaupun tempatmu kumuh
Syukurlah engkau
Istighfar,
Tawakal
Niatmu, benarkan!
Maka undangan nikmat-NYA
Akan kau terima sebagai kabar
Bukan malah berpangku tangan
Menengadah tanpa lelah
Inginmu berkisah
Logikamu kalah
menyerah
Ekonomi yang kian mencekik
Harapan melengking memegakkan kuping
Usaha dihardik
Dunia memang licik
“Aku muak dengan kehidupan yang jelata!!”
Kain penutup tubuhmu telah kau gadaikan
Padahal :
Peluh telah aku kuras
Tulang telah aku remukkan
Kulit telah aku panggang
Wajahku brewokan
Dayaku tanpa helaan
“Apa ini tak cukup, hah??”
Pintamu semakin kau lagakkan
Aku tak mampu belikanmu harta
Seperti mereka dengan kerling mobil mewahnya
Bahkan berkacapun bisa di cat hitamnya
Hingga bekas-bekas asuhan waktupun jelas nyata
Walau tersembunyi dalam parutan harta
Hingga mulus bak intan
Terjaga polesannya
Karatnya jadi berharga
“Tapi hasilmu tak seberapa?!
Sementara lubang kian menganga hendak menerkam
Dan giginya yang tajam ..”
“Itulah rezekiku!!
Itulah sayang-NYA untuk kita,
Itulah bagian harta kita,
Itulah buah dari benih dan bibit kita,
Itulah kita sekarang!”
“Aku tak butuh itu!
Aku butuh makan!
aku butuh berlian!
aku butuh kesenangan!
Aku perlu kebutuhan!”
Diam!!
Dalam doa yang terkarang
Usaha kian mahal menggarang
Mungkinkah lakukan yang terlarang?
Nafsu selalu menyerang
Apakah aku harus “menyeberang??”
Hingga lamunan jadi kenyataan
Tapi ..
Tidak!!
Tuhanku Maha Penyayang
Tuhanku Maha Melihat
Tuhanku Pemberi Rezeki
Tuhanku, Hakim yang Adil
Sabarlah..!!
Kau kubekam dalam kealpaan
Hingga aman kau kawan
Tak kuizinkan menyanksikan
Tutuplah matamu, tenang ..
Rasakan nafasmu
Alir darahmu
Degup jantungmu
Adakah ia mengeluh kau asuh?
Walaupun tempatmu kumuh
Syukurlah engkau
Istighfar,
Tawakal
Niatmu, benarkan!
Maka undangan nikmat-NYA
Akan kau terima sebagai kabar
Bukan malah berpangku tangan
Menengadah tanpa lelah
Inginmu berkisah
Logikamu kalah
menyerah
Dia "GIE" zi di Negeriku
sipil dibongkar
ditelisik hingga urat-urat itu longgar
koar-koar
orde lama
orde baru
BUBAR!!
penakhluk gunung
pemikir subur
motivator tanpa kendur
dia kesepian
apakah benar yang aku kerjakan?
pemuda begitulah
tonggak bangsa
asal usul negara
kembalikan pada asalnya!
Idealis, Realis
hingga titik di pembaringannya
sebagai pemuda
dengan umur adanya
kemana dia?
adakah menuju gerbang reinkarnasi
jadi pemuda kini?
ditelisik hingga urat-urat itu longgar
koar-koar
orde lama
orde baru
BUBAR!!
penakhluk gunung
pemikir subur
motivator tanpa kendur
dia kesepian
apakah benar yang aku kerjakan?
pemuda begitulah
tonggak bangsa
asal usul negara
kembalikan pada asalnya!
Idealis, Realis
hingga titik di pembaringannya
sebagai pemuda
dengan umur adanya
kemana dia?
adakah menuju gerbang reinkarnasi
jadi pemuda kini?
Rabu, 02 Desember 2009
"Nafas"
Mengalun dalam rongga
Hempaskan penuh sisa, lega
Larut dalam alir darahnya
Ada kehidupan, ada nama-NYA
Handil Bhakti,
37th. 02122009, 3.49 am WITa
Rangka menyusun sujud lail
Hempaskan penuh sisa, lega
Larut dalam alir darahnya
Ada kehidupan, ada nama-NYA
Handil Bhakti,
37th. 02122009, 3.49 am WITa
Rangka menyusun sujud lail
Kamis, 26 November 2009
"Buatmu Maaf itu"
9.08 pm WITa
26112009.
Buatmu,
Hari ini sama seperti hari sebelumnya dan besok
Dari alur waktu 24 jam tanpa detik lain setelahnya
Walau beda tanda-tanda karang dalam rentang masa itu
Banyak kata, seiring perbuatanku padamu
Pasti banyak khilaf yang terbentuk
Sengaja atau tidak dimaksudkan dahulu
Satu-satu, Kian menumpuk
Selama ini
Adakah Kuat hatimu menadahnya selalu ?
Ada senyum
Ada dentum
Diam
Marah
Tertawa
Tangis
Ini itu
Begini begitu
Lain-lain yang terungkit
Bentukanmu jua aku
Bersama dalam waktu
Maafku
Atas segala kata-kata
Lika-liku-laku aku
Buatmu
sudikah menerima ampun maafku ?
sekali lagi buatmu
selalu
yang bersamaku
atau jauh menerawangku
kembalikan fitrahku
dengan doamu
ikhlasmu
kamu
dan terimalah atas serahku
maaf itu
9.37 pm WITa
Mawar dua
dan aku berputar-putar di situ

26112009.
Buatmu,
Hari ini sama seperti hari sebelumnya dan besok
Dari alur waktu 24 jam tanpa detik lain setelahnya
Walau beda tanda-tanda karang dalam rentang masa itu
Banyak kata, seiring perbuatanku padamu
Pasti banyak khilaf yang terbentuk
Sengaja atau tidak dimaksudkan dahulu
Satu-satu, Kian menumpuk
Selama ini
Adakah Kuat hatimu menadahnya selalu ?
Ada senyum
Ada dentum
Diam
Marah
Tertawa
Tangis
Ini itu
Begini begitu
Lain-lain yang terungkit
Bentukanmu jua aku
Bersama dalam waktu
Maafku
Atas segala kata-kata
Lika-liku-laku aku
Buatmu
sudikah menerima ampun maafku ?
sekali lagi buatmu
selalu
yang bersamaku
atau jauh menerawangku
kembalikan fitrahku
dengan doamu
ikhlasmu
kamu
dan terimalah atas serahku
maaf itu
9.37 pm WITa
Mawar dua
dan aku berputar-putar di situ

"Soalku dan Jawabmu"
03.31 am WITa
Kamis, 261109 @ Handil Bhakti
satu soalku berdesir
seraya menyisir
Jawab yang terisolir
Dalam tenangnya, dia menafsir
: Aku
tersebarlah pikir
dalam bombardir
tanya-tanya terus hadir
hingga kumeringkuk
isi cangkirku belum cukup
hausku kian mengerik, aku bergidik
mecari bantuan carik
tuk menemukan larik-larik
dengan pekik
aku berisik
"Apa beda sajak dan puisi ?"
: dia
sang Amir
tanpa cibir
terus mengukir
pahatan pada cangkir si anak
sekaligus menuang terik
sebagai isi yang menarik
untuk ditelisik
"Sajak adalah Kehidupan,
Puisi adalah Kita"
4.03 am WITa,
sahur,
Kamis, 261109 @ Handil Bhakti
satu soalku berdesir
seraya menyisir
Jawab yang terisolir
Dalam tenangnya, dia menafsir
: Aku
tersebarlah pikir
dalam bombardir
tanya-tanya terus hadir
hingga kumeringkuk
isi cangkirku belum cukup
hausku kian mengerik, aku bergidik
mecari bantuan carik
tuk menemukan larik-larik
dengan pekik
aku berisik
"Apa beda sajak dan puisi ?"
: dia
sang Amir
tanpa cibir
terus mengukir
pahatan pada cangkir si anak
sekaligus menuang terik
sebagai isi yang menarik
untuk ditelisik
"Sajak adalah Kehidupan,
Puisi adalah Kita"
4.03 am WITa,
sahur,
Rabu, 25 November 2009
Menerka Akhirnya : Kebisaannya (Manusia)
Handil Bhakti,
25112009, 9.17 pm WITa
Menerka Akhirnya
Hilir mudik menggagas di atas dunia
Memutar balikan fakta yang ada
Dengan keterbatasannya
Akal, pikiran, tanpa paham langgam
Tangkas menggambarkan
Membentuk opini
Meringkukkan nurani
Hati dipagari, tak digunakan memaknai
Ketakutan mencengkam
Arah di depan menggamit sepuhan lamunan
Nyatapun dilayangkan
Membumbung tak karuan
Hilang di antara puing-puing ingatan
Bumi digetarkan
Ombak diliarkan melecut gelombang
Gunung-gunung melahirkan
Daratan dilantakkan, diisap bentukan lempengan
Hancur, sekian
Meratakannya tanpa ada ikatan
Iman beterbangan
Insan hanya teriakan
Lari, tunggang langgang
Hapuskan garis tangan pada bagian yang merugikan
Kemana hendak menyembunyikan
Darat, laut, atau udarakah ?
: Trial and Error
Bermacam sarana diungkapkan
Ilmu pengetahuan
Teknologi
Memutar kebisaan, macam-macam
Penasaran diandalkan
Pengalaman, perlukah ?
Celah, tetap tidak ditemukan
Setelah terompah diperdengarkan,
Hanya gamang, mati (kemudian)
Dibangkitkan ??
Cuma bencana, bukan AKHIR
Masih dapat terselamatkan
Beberapa bagian alam
Adakah mengambil pelajaran ?
Atau malah hanya “singgahan intelektual” ?
Dari lakon dengan alur fiktif belaka
Referensi besutan
9.53 pm WITa
“sembari memperhatikan film 2012”
25112009, 9.17 pm WITa
Menerka Akhirnya
Hilir mudik menggagas di atas dunia
Memutar balikan fakta yang ada
Dengan keterbatasannya
Akal, pikiran, tanpa paham langgam
Tangkas menggambarkan
Membentuk opini
Meringkukkan nurani
Hati dipagari, tak digunakan memaknai
Ketakutan mencengkam
Arah di depan menggamit sepuhan lamunan
Nyatapun dilayangkan
Membumbung tak karuan
Hilang di antara puing-puing ingatan
Bumi digetarkan
Ombak diliarkan melecut gelombang
Gunung-gunung melahirkan
Daratan dilantakkan, diisap bentukan lempengan
Hancur, sekian
Meratakannya tanpa ada ikatan
Iman beterbangan
Insan hanya teriakan
Lari, tunggang langgang
Hapuskan garis tangan pada bagian yang merugikan
Kemana hendak menyembunyikan
Darat, laut, atau udarakah ?
: Trial and Error
Bermacam sarana diungkapkan
Ilmu pengetahuan
Teknologi
Memutar kebisaan, macam-macam
Penasaran diandalkan
Pengalaman, perlukah ?
Celah, tetap tidak ditemukan
Setelah terompah diperdengarkan,
Hanya gamang, mati (kemudian)
Dibangkitkan ??
Cuma bencana, bukan AKHIR
Masih dapat terselamatkan
Beberapa bagian alam
Adakah mengambil pelajaran ?
Atau malah hanya “singgahan intelektual” ?
Dari lakon dengan alur fiktif belaka
Referensi besutan
9.53 pm WITa
“sembari memperhatikan film 2012”
Selasa, 24 November 2009
"Masih"

Banjarmasin,
Selasa, 24/11/09 : 11.14 pm WITa
Masih berkutat di sekitar komputer,
Masih sibuk dengan Kata Kata dan FB,
Masih bisu dalam pikir,
Masih cari untuk bentuk,
Masih ribut, mengamuk
Masih pikir, berkecamuk
Masih larut tanpa ingkut,
Masih,
Meramu untuk keruk
Ilmu yang kian banyak tersangkut
disambut, teguk
dari kantung - kantung yang sarat tanpa lapuk
Masih lanjut ..
memecah sambut,
11.29 pm WITa
SHinE,
Photo by
Senin, 23 November 2009
"MP Ku"

Assalamu'alaikum ..
Banjarmasin, 23/11/2009
11.04 pm WITa
"Malam Pertama"(MP) ku dengan blog, baru ini aku menyentuhnya, mengoyak isi tubuhnya.
(^_^) ..
Sebelumnya ga' ada ketertarikanku untuk belajar blog, hingga seseorang menyarankan dalam marahnya (wujud sayangnya menurutku, ^^) supaya aku bisa memulai mengenalnya (si Blog), ini jawabanku untuk pertanyaannya "Kapan kamu siap ?!".
"Sekarang Aku Siap!! Sangat ..," Yakinku mengungkap.
Walaupun Materiku ga' ada, ga' siap, tapi sebutan "Anak Bodoh"nya selalu terngiang di kupingku yang masih tabu dengan "kata kotor" itu. Nyatanya memang itulah lecutan paling keras buatku, terutama dalam seret belajarku mencari ilmu pada "pengalaman" baru itu, apalagi di dunia maya yang baru aku jajahi kurang lebih 1 tahun ini di wilayah per'Facebook'annya (saja). Bila mahu berkunjung ke 'FB'ku silakan aja ke al.shine000@gmail.com, ada beberapa notes saya lo di sana (yang masih jauh dari kata bagus, namanya juga "Belajar"), hehhee,teteup promosi.com, =P
silakan mampir, datang berkunjung ke gubukku di sana ya !!
Baiklah, kita mulai saja, kita lanjutkan saja, toh nanti juga bisa karena terbiasa..
insyaAllah, doakan yah ..
aku mahu belajar menulis, aku mahu belajar kata kata, aku mahu tahu banyak mengenai makna, aku mahu mengenal bahasa dan bagiannya, seterusnya mengenai hal yang berhubungan dengan "mereka-mereka" yang mahu aku dapat titel "BISA".
walaupun perlu masa, "Orang-Orang Terbiasa", lingkungan, dan rasa yang lebih peka jua pengetahuan yang lebih dalam untuk pegangan mencari'nya'.
aku masih belajar ..
banyak kurang yang harus diperiksa,
mohon tambahkan dengan kata nasihat walau dalam wujud cela atau puji (kalau bisa),
tuk' membangun rangkaku, memperkokoh pijakku, memancangkan asaku ..
doa juga perlu,
bantulah aku ..
Alhamdulillah yaa Rabb, KAU terus sirami aku dengan rahmat memahat kesempatan pada celah masa yang tertitipkan dalam raga dan jiwaku yang KAU pegang Ruhnya,
terimakasih juga buatnya, Yanda Kikaku. ^^
11.48 pm Wita.
wassalam,
S H I N E,
Langganan:
Postingan (Atom)



