Minggu, 03 Oktober 2010

Perempuan Pemuja Bulan

dari sela dedaunan yang menggeliat digelitik angin

ada sekelebat bayang terbentuk dari pantulan sinar rembulan

dia datang, perempuan pemuja bulan

sedari bulan dilahirkan, hingga bulan kembali mengandung penuh

berputar, selalu bersama malam dia datang ..



mengutarakan mimpinya

bertualangan ke dunia khayal dalam pikirannya

kadang dia tersenyum, kadang dia menangis

memainkan nuansa pada sepasang mata bola biru muda





sampai dia bosan dan semua rasa tertumpah menjadi renungan ..

bersama senyap menyelami malam

diperhatikan bulan, dipertanyakan bintang

apa gerangan yang ia risaukan



"tak bosankah dia pada rembulan yang masih tegak bertengger di sana

kecuali mendung menjadi penampil utama bersama kelam jelaga?

tak takutkah dia pada lolongan serigala pemintal nafsu yang dahaga?

tak rapuhkah dia saat ditusuk dinginnya udara yang menyerta?

tidakkah dia ..."



ah perempuan pemuja bulan

usahlah kau habiskan masa berlutut di sana

memejamkan mata seraya menikmati reka-reka

melahirkan anak kristal dari rahim perasa ..

cukuplah hai perempuan di sana!

bangkitlah, hadapi dunia!

ada mentari, ada pelangi, ada hujan ..

ada semesta yang harus kau telusuri tanpa meraba dunia pikirmu



hai perempuan pemuja bulan,

ada Tamu ingin memujamu ..

berpalinglah dan temui dia,

si ASA yang berpendar dari hatimu, walaupun kau gemetar, memudar ..



rembulan ingin pulang pada pelukan masa

fajar menggarang ..

kau usahlah turut terbenam

Larilah!

susur jejak-jejak masa yang tak pernah hilang

atau berjalanlah! buat jejakmu benderang ..

meminta rembulan ..